|
Budidaya kepiting cangkang lunak, bukanlah suatu usaha baru. Untuk memperoleh kepiting jenis ini ada beberapa teknik yang bisa dilakukan. Namun, kesemua teknik itu menghasilkan efek sama yakni mempercepat pergantian kulit atau cangkang kepiting. Russanti Lubis Pernahkah Anda menyantap kepiting? Tentu, Anda sering pula direpotkan dengan acara memisahkan daging dengan kulitnya? Mengapa tidak mencoba kepiting cangkang lunak? Karena, kepiting ini seluruh organ tubuhnya lunak, maka mudah diproses menjadi masakan apa pun dan dimakan semua bagian tubuhnya. Meski, dari segi harga juga jauh lebih mahal.
Pada dasarnya, kepiting biasa atau cangkang keras sama saja dengan kepiting cangkang lunak. Dilihat dari siklus hidupnya, binatang yang dapat dijumpai di semua samudera dunia ini dimulai dari telur, zoea, megalope, juvenile, hingga kepiting dewasa. Perubahan dari siklus yang satu ke siklus yang lain, akan membuat kepiting mengalami pergantian kulit atau cangkang (moulting). Pada saat moulting itulah, binatang ini akan menghasilkan cangkang baru yang lunak. Dengan kata lain, moulting dilakukan hewan dari infraordo brachyura (Yunani, brachy = pendek, ura = ekor) atau yang memiliki “ekor” sangat pendek ini, sebagai tanda bahwa tubuhnya telah tumbuh dan berkembang. Selain itu, moulting juga dilakukan Mister Crab (salah satu tokoh dalam kartun SpongeBob SquarePants, red.) ini, untuk reproduksi (melakukan perkawinan) dan mempertahankan diri dari kondisi yang kurang menguntungkan.
“Dalam kondisi lingkungan hidup yang tidak menguntungkan itu, kepiting akan mengalami stres. Nah, pada saat seperti itulah, ia akan segera berganti kulit agar dapat survive,” kata Reny Sri Rahayu, pebisnis kepiting cangkang lunak. Untuk itu, para pebisnis kepiting cangkang lunak biasanya memanipulasi lingkungan yang tidak disukai kepiting. Tujuannya, tentu saja supaya “saudara sepupu” dari ketam dan rajungan ini segera berganti cangkang. Moulting juga dipengaruhi oleh faktor hormon. “Pada tangkai mata kepiting terdapat MIH (Moulting Inhibing Hormone), yang berfungsi mengatur pergantian kulit. Hormon ini juga mengatur dan menghambat kerja MH (Moulting Hormone), yang berfungsi menstimulasi pergantian kulit.
Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 98/September 2009. |