|
Dengan bisnis yang dibangunnya sebelum bekerja dan tabungan yang dihimpunnya saat masih bekerja, Puji Irwanto tidak perlu terpuruk ketika terkena PHK. Bahkan, dapurnya pun tetap ngebul hingga akhirnya mengantarkan Puji menjadi pebisnis makanan cepat saji yang terbilang sukses. Russanti Lubis PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Bagi sebagian besar karyawan merupakan momok yang menakutkan, yang dapat menghancurkan karir mereka dalam sekejap. Bagi sebagian yang lain hanya terasa seperti gempa kecil yang meski ada imbasnya, tapi bisa membuat mereka bangkit kembali dengan cepat. Tapi ada juga yang menganggapnya bagaikan tersandung batu jalanan: kaget, jengkel, marah, dan sakit tapi sesudahnya ya sudah.
Puji Irwanto, salah seorang korban PHK yang merasa kejadian itu hanya seperti tersandung batu. Ia menganggap demikian, jauh sebelum peristiwa itu terjadi Puji dan beberapa rekannya sudah membangun bisnis distribusi sembako (sembilan bahan pokok) dengan cara patungan. “Menurut saya, sebelum bekerja di bidang media atau menjadi wartawan, saya harus memiliki pekerjaan sampingan, yang tentu saja tidak menggangu pekerjaan utama. Tujuannya, kalau tiba-tiba di-cut, saya tidak merasa terlalu kuatir. Meski saat itu saya masih bujangan,” kata Puji. Pada tahun 1991, Puji pun mengawali karirnya sebagai reporter di Majalah Warta Ekonomi (Wartek). Ia mulai mengerti bahwa industri media itu rapuh. Meski banyak juga teman-temannya menganggap wartawan sebagai sebuah profesi yang harus dijalani dengan segenap jiwa raga. “Itu sah saja kok,” timpalnya yang pada tahun 1995 menempati posisi sebagai redaktur.
Dengan alasan ingin mencari tantangan baru, Puji resign dari Wartek pada medio 1997 dan melangkahkan kaki ke Majalah Panji. Rupannya benar apa yang dipikirkan puji: industri media itu rapuh. Tiga tahun kemudian, Panji tutup buku. Investor tidak mau melanjutkan penerbitannya lagi. PHK masal pun terjadi. Pesangon yang diberikan ala kadarnya atau tanpa perhitungan yang jelas, memicu munculnya perasaan saling curiga antarkaryawan dan antara karyawan dengan para pimpinan hingga berujung konflik besar dan perpecahan. “Saya pribadi tidak melakukan perlawanan apa pun. Uang pesangon saya ambil, lalu saya cabut dari sana. Tapi, memang tidak dapat dipungkiri, saya juga merasa kecewa, meski secara finansial sudah siap.,” kata kelahiran Purbalingga, Jawa Tengah, hampir 46 tahun lalu itu.
Secara teknis, ia melanjutkan, pasca PHK, seseorang hanya mampu menggunakan pesangonnya hingga empat bulan ke depan. “Secara pribadi, itu tidak terjadi pada saya. Walau saya sudah memiliki dua anak. Kemungkinan itu karena saya memunyai bisnis kecil-kecilan dan tabungan. Kalau pun kurang, saya bisa menjual rumah atau kendaraan saya,” kata pria, yang sejak kecil diajarkan menabung oleh orang tuanya. Sedangkan untuk mengisi waktu, selain menekuni bisnisnya, ia juga menjadi penulis lepas di beberapa media. “Bantu-bantu temanlah,” imbuhnya. Namun, karena masih ingin bekerja, khususnya menjadi wartawan, ia melamar ke Majalah Selular pada tahun 2001 dan diterima dengan posisi redaktur pelaksana. Pada waktu yang hampir bersamaan, bisnis distribusi sembakonya pun berakhir karena masalah interen. Selanjutnya, bisnis itu digantikan oleh bisnis beli jual bunga krisan, yang hanya berlangsung beberapa bulan. Kemudian, Puji beralih lagi ke bisnis mebel. “Pokoknya, dapur tetap ngebul,” ucapnya. Pada tahun 2002, sarjana hubungan internasional dari Universitas 17 Agustus, Jakarta, ini diangkat sebagai pemimpin redaksi.
Lima tahun, ia bertahan di Selular hingga akhirnya harus resign dengan konflik. “Saya dan manajemen memiliki perbedaan point of view dan frame of reference. Contoh, saya mencetuskan Selular Awards dan diterima oleh manajemen. Acara ini dirancang pada Bulan Januari dan digelar pada Bulan Agustus. Dalam perjalanannya, manajemen hanya berkutat dengan acara ini agar nantinya sukses. Sedangkan saya berpikir sebaiknya membuat plan B dan plan C sambil menunggu acara ini digelar. Sehingga, dalam setahun dapat digelar tiga acara sekaligus, juga untuk mengantisipasi bila Selular Awards justru gagal digelar. Dalam dunia bisnis ini biasa terjadi,” ungkapnya. Lepas dari Selular, ia terjun ke bisnis makanan cepat saji berlabel Crush Zone. Bisnis makanan? “Pada umumnya, ketika seorang jurnalis memutuskan untuk berbisnis, maka ia akan memilih bidang usaha yang tidak jauh dari ‘keahliannya’ itu. Tapi, saya justru berpikir masa’ saya nggak bisa mencoba bidang yang lain. Dengan keyakinan bahwa jika kita telah mempelajari sesuatu sebelumnya dan telah melakukan perhitungan-perhitungan secara mendetil ya sudah jalan saja. Selain itu, makanan merupakan bidang usaha yang paling sering dan paling banyak dilirik orang ketika memulai bisnis,” tuturnya.
Crush Zone yang dibangun pada tahun 2006, menyajikan menunya yang pertama berupa crepes. Karena, Puji melihat di mana pun dijual, makanan ini pasti laku. Lantas, ia pun menghubungi seorang temannya yang kebetulan chef sebuah hotel berbintang. Resep diperoleh, hasilnya dijual di pinggir jalan dengan harga Rp3 ribu. “Saya dianggap gila oleh teman saya itu,” katanya. Tapi, ternyata, produk ini laku. Namun, usahanya ini tidak didukung kakak-kakaknya. Karena, di dalam keluarganya terbentuk satu pola pikir bahwa yang namanya bekerja yaitu menjadi pegawai atawa pergi ke kantor. “Ketika akan berbisnis burger, saya meminjam uang pada salah seorang kakak saya, untuk biaya menyewa tempat. Tapi, yang ia berikan justru amplop berisi guntingan-guntingan koran, yang memuat artikel tentang berbagai lowongan kerja. Kondisi ini, justru memacu saya untuk membuktikan kalau saya mampu memperoleh nafkah, tanpa bantuan mereka dan tanpa harus menjadi pegawai,” ujar si bungsu ini.
Puji boleh dibilang berhasil membuktikan tekadnya. Crush Zone tidak mengalami jatuh bangun seperti bisnis-bisnis sebelumnya. Bahkan, dari bulan pertama hingga bulan ketiga Crush Zone beroperasi, ia tidak perlu mengeluarkan duit lagi untuk menggaji para pegawainya. Mereka digaji dengan hasil penjualan Crush Zone. “Kini Crush Zone telah memiliki 40 outlet (20 outlet di antaranya aktif, red.) yang tersebar di seluruh Jawa. Setiap outlet menyumbangkan omset rata-rata Rp12 juta−Rp18 juta per bulan,” jelasnya. Outlet-outlet itu, Puji melanjukan, dikembangkan dengan konsep semi waralaba dengan nilai investasi Rp14,5 juta (gerobak)−Rp90 juta (mini kafe) dan tanpa royalty fee. Di samping itu, Crush Zone juga telah menambah menunya dengan burger, kebab, pizza, fried chicken, spaghetti, dan hotdog dengan harga mulai dari Rp3.500,-. Sedangkan untuk minuman, tersedia ice lemon tea.
Kiatnya? “Tidak ada bisnis yang tidak memiliki pesaing. Dalam menghadapi persaingan, jangan melihat para pesaing kita sebagai barrier. Itu tidak akan membuat kita maju. Kita kembangkan saja usaha kita, dengan melakukan berbagai inovasi dan merancang strategi yang lebih cerdas. Buatlah usaha kita memiliki nilai tambah yang otomatis akan membedakan kita dengan mereka. Misalnya, dengan membuat crepes yang lebih besar ukurannya ketimbang crepes-crepes pada umumnya atau menggunakan kompor biasa daripada kompor listrik,” pungkasnya. Menjadi pebisnis itu tidak mudah. Tapi, sebenarnya setiap orang memiliki potensi menjadi pebisnis, asalkan ia mau menggali dan mengolahnya dengan berbagai strategi jitu.
Jika ingin mengutip/menyebarluaskan artikel ini harap mencantumkan sumbernya.
|