|
Selain khasiatnya, sirih merah kini banyak diburu kolektor tanaman hias lantaran penampilannya yang menarik. Cristiyanto kini mulai mendulang laba membudidayakan sirih merah yang jangkauan pemasarannya sudah merambah hingga ke luar Pulau Jawa. Wiyono Pernah melihat perempuan nginang atau mengunyah sirih? Di perkotaan, kegiatan seperti itu, barangkali sudah menjadi pemandangan langka. Bahkan di daerah pedesaan, jumlah perempuan yang gemar mengunyah sirih bisa jadi terus menyusut. Padahal pada jaman dulu, orang tua di kampung, terutama ibu-ibu, sehari-hari biasa mengunyah sirih di sela-sela kegiatan mereka. Tentu bukan tanpa alasan. Salah satu manfaat yang dapat, gigi mereka menjadi lebih kuat. Sehingga kendati usianya sudah tergolong lanjut tak jarang deretan gigi yang mereka miliki masih tetap utuh. Manfaat lainnya, diyakini bisa menghilangkan bau mulut tak sedap.
Meski banyak manfaat yang didapat, mengunyah sirih dianggap memberi pengaruh yang kurang baik terutama dari sisi estetika. Memang, sirih yang dikunyah bersama injet (endapan air kapur) akan menghasilkan warna merah sehingga meninggalkan kerak kehitaman pada gigi. Kondisi seperti itu, untuk masa sekarang dianggap akan mengurangi keindahan pada gigi. Orang lebih menyukai gigi yang berwarna putih dan tersusun rapi. Lantas apa, pengaruhnya? Yang pasti, konsumsi sirih menjadi berkurang. Tetapi mulai sekitar tahun 1990-an tanaman sirih kembali popular. Namur kali ini lebih difungsikan sebagai tanaman hias oleh para hobiis. Sebagai gambaran, sejatinya sirih mempunyai beragam jenis atau spesies, yaitu sirih gading, sirih hijau, sirih hitam, sirih kuning dan sirih merah. Semua jenis memiliki ciri yang hampir sama yakni tanamannya merambat dengan bentuk daun menyerupai hati dan bertangkai yang tumbuh berselang seling dari batangnya. Namun sirih merah paling banyak diburu karena penampilannya paling menarik. Di samping itu juga terdapat kepercayaan, jika dalam sebuah daun guratannya berbentuk hati maka bisa mendatangkan kebahagiaan bagi pemiliknya.
Sirih merah, sebagaimana jenis yang lain juga tumbuh merambat di pagar atau pohon dengan ciri khas batang bulat berwarna hijau keunguan dan tidak berbunga. Daunnya membentuk jantung hati dan meruncing pada bagian ujung. Permukaannya mengkilap dan tidak merata. Namun yang membedakan dengan sirih hijau, selain daunnya berwarna merah keperakan, bila disobek akan berlendir dan beraroma lebih wangi. Soal khasiatnya sebagai tanaman obat, para ahli pengobatan tradisional pun telah sejak lama memanfaatkan tanaman sirih merah. Apalagi berdasarkan penelitian kemudian diketahui di dalam daun sirih merah terkandung senyawa fitokimia yakni alkoloid, saponin, tanin dan flavonoid.
Seperti diketahui, senyawa alkokoloid dan flavonoid memiliki aktivitas hipoglikemik atau penurun kadar glukosa darah. Hasil uji praklinis pada tikus dengan pemberian ekstrak hingga dosis 20 g/kg berat badan ternyata aman dikonsumsi dan tidak bersifat toksik. Pada dosis tersebut mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus sebesar 34,3%. Penurunan tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan pemberian obat anti diabetes militus komersial di pasaran saat ini yang hanya menurunkan 27% glukosa darah tikus. Sehingga hasil uji praklinis itu dapat dipakai sebagai acuan penggunaan pada orang yang menderita kencing manis. Kandungan senyawa kimia lainnya yakni minyak atsiri, hidroksikavicol, kavicol, kavibetol, allylprokatekol, karvakrol, eugenol, p-cymene, cineole, caryofelen, kadimen estragol, terpenena, dan fenil propada. Karvakrol bersifat desinfektan, anti jamur, sehingga bisa digunakan untuk obat antiseptik pada bau mulut dan keputihan. Eugenol dapat di-gunakan untuk mengurangi rasa sakit, sedangkan tanin dapat diguna-kan untuk mengobati sakit perut.
Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 94/Mei 2009.
|