www.AlvinAdam.com


Majalah Pengusaha

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Musubi, Peralatan Bela Diri Jepang Made In Ngayogya

Posted by On 01.25

Pengalamannya menuntut ilmu di Nagoya, membuat David tertarik menekuni bisnis pembuatan bela diri Jepang made in Ngayogya (Yogyakarta) . Wiyono

Ketika bisnis dilandasi hobi, paling tidak terdapat salah satu di antara dua kepuasan. Pertama adalah kepuasan secara finansiil dan satu lagi kepuasan secara emosionil. Misalkan saja, seorang pecinta olah raga seni bela diri lalu menekuni usaha pembuatan peralatan bela diri atau membuka sebuah perguruan bela diri. Dalam kondisi terburuk, umpama kemakmuran tidak teraih, tetapi setidaknya kepuasan batin bakal diterima. Dan idealnya, kedua-duanya memang tetap harus didapatkan.

Seperti halnya David Cahyanto, kelahiran Jogyakarta 1983 ini begitu tertarik dengan seni bela diri Jepang sampai-sampai mendirikan bisnis pembuatan peralatan bela diri, khususnya khas Jepang. Kebetulan pada tahun 2001 ia menjadi salah seorang siswa dalam pertukaran pelajar ke Nagoya, Jepang. Di situ ia sempat mempelajari martial art Jepang pada beragam sensei. Kuliahnya di  Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Bahasa Jepang UGM malah semakin menumbuhkan ketertarikan terhadap dunia budo atau martial art negeri sakura tersebut. Sampai akhirnya terpikirlah mendirikan usaha sesuai bidang yang diminatinya itu. “Secara kecil-kecilan sudah sejak 2004, tapi mulai serius baru tahun 2005 setelah saya lulus kuliah,” David menuturkan.

Diakui, pada awal usahanya ia tidak melihat peluang pasar secara lebih jauh. Sebaliknya meskipun pasar bela diri di Indonesia masih terbatas, sebagai praktisi bela diri dan pecinta budaya Jepang, ia merasa banyak produk bela diri berharga mahal, bahkan beberapa di antaranya masih berupa barang impor. Kondisi itu mendorong dirinya guna memenuhi kebutuhan praktisi bela diri dan pecinta budaya Jepang di Indonesia dengan produk lokal yang berkualitas, sementara harganya tetap terjangkau.
Nama bendera usaha Musubi juga diambil dari bahasa Jepang, berarti harmoni. “Saya berharap akan tercipta hubungan yang harmoni antara Musubi, sebagai penyedia produk, dengan para konsumen atau klien kami, jadi betul-betul customer satisfaction oriented,” ujarnya sedikit beriklan.

Awalnya, dengan modal usaha sekitar Rp 5 juta, Musubi dijalankan patungan bersama Dian Novietasari, teman kampus David. Instruktur bela diri Samurai Academy System tersebut menerapkan sistem made by order, barang baru dibuat saat ada pemesan. Semakin ke depan bisnis itu makin berkembang, produksi bisa terus bergulir sehingga selalu ada stok produk dan sample. Kini, sebagian besar produk telah dibuat kontinyu, yang berdasar pesanan hanya produk katana (pedang Jepang) dan pakaian tradisional Jepang.
Pertama kali, mereka berdua juga baru memproduksi beberapa jenis barang. Sekarang produk yang dibuat makin beragam. Terdapat bermacam-macam jenis senjata, seperti shinken/ pedang tajam, iaito/ pedang tumpul, pedang rahasia, kunai/ pisau ninja, tanto/ pisau pendek, kama/ sabit ninja, shuko/ cakar ninja, shuriken/ bintang, boken/ pedang kayu, aneka tongkat kayu, pedang kayu kodachi, tanto dan suburito, katanagake/ rak pedang, tachi kake/ rak berdiri, dan tactical knive/ pisau tempa.

MusubiSelain itu, David juga melengkapi produk dengan menerima pesanan pakaian atau seragam bela diri, meliputi yukata (pakaian tradisional Jepang), pakaian samurai, shinobi shozoku atau pakaian ninja, hapi, iai/ kenjutsu gi, hakama, jikatabi (sepatu ninja), baju aikido, baju ninjutsu, baju ken/ iai, cosplay set variatif atau kostum tokoh jepang, bogu/ baju kendo, serta membuat jenis-jenis barang fun craft bernuansa Jepang atau martial art Jepang. Seperti misalnya, gantungan hp, gantungan kunci kunci, bros, mug, pin, gantungan origami, pembatas origami, dan kantung hp. “Selain itu saya juga menjual aksesoris Jepang asli yang saya datangkan melalui teman saya di Jepang, misalnya kipas, gantungan kunci, sapu tangan dan sebagainya,” tambahnya.

Jumlah karyawan tetap Musubi sebanyak 4 orang, sementara lainnya bekerja dengan sistem borongan saat melayani pesanan. Dalam sebulan, rata-rata menghasilkan masing-masing item sekitar 1-50 pcs dengan harga Rp 5.000,00-Rp 1.500.000,00. Selain dari Jogyakarta, konsumen lokal datang dari Jakarta, Semarang, Surabaya, Batam, Balikpapan, dan Bandung. Sedangkan untuk pembeli dari luar negeri, khususnya baru pelanggan dari Singapura.

Setiap produk, dikatakan, dibuat berdasarkan contoh barang asli dari Jepang koleksi pribadi David. Tetapi, dikatakan, itu pun tidak berarti persis sama seratus persen. Kadang kala kreasi desain muncul dari ide sendiri atau pun mendapat masukan pelanggan. “Kalau bisa lebih bagus kenapa tidak,” kilah anggota Genbukan Ninpo Bugei Indonesia yang juga tutor bahasa Jepang di Japan College tersebut.
Kreasi juga perlu dilakukan untuk mengatasi kesulitan memperoleh bahan. Bahan baku sepatu ninja (jikatabi), umpamanya. Di toko tidak tersedia sol sepatu yang belah di bagian jari seperti pada sepatu ninja yang asli. Jika memesan langsung ke pabrik paling tidak sekaligus harus 100 pasang untuk tiap satu ukuran. Karena itu ia mengakalinya dengan memakai karet crepe mentah yang kemudian dipotong sendiri sesuai pola sol jikatabi.

Ternyata David tidak mengalami kendala berarti dalam hal pemasaran produk. Ia mengaku banyak mengandalkan promosi melalui situs internet. Faktanya, sebagian besar konsumen pada awalnya mengenal Musubi lewat website. Selain itu ia memberikan diskon bagi para pelatih yang memiliki anak didik agar merekomendasikan produk-produk miliknya, di samping kerap ikut serta pada acara-acara pameran. Sedangkan untuk menjangkau pasar yang lebih luas, di tokonya ia menjual pula produk bela diri umum, seperti taekwondo, silat, dan lainnya, yang berasal dari produsen berbeda.

Masalah yang ia temui, biasanya terjadi justru pada saat produksi. “Misalnya untuk finishing kayu, kondisi cuaca sangat berpengaruh pada hasil akhir. Kalau terlalu panas hasilnya akan kusam, sementara kalau mendung akan lengket bila dipegang. Untuk mengatasi ini, produksi biasanya dilakukan malam hari. Jadi pagi harinya bisa langsung difinishing memanfaatkan matahari terbit,” tutur David yang kini tengah berencana meningkatkan pelayanan secara online dan berkeinginan membuat one stop shop Musubi. “Di mana dalam satu tempat terdapat tempat latihan bela diri, toko yang menjual alat-alat dan perlengkapannya serta kantin kecil bernuansa Jepang,” imbuhnya mengakhiri.

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »