www.AlvinAdam.com


Majalah Pengusaha

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Kebangkitan Ketiga Komoditi Ketela (Pohon)

Posted by On 01.36

Singkong secara umum adalah tanaman yang dipandang sebelah mata. Tetapi karena bisa diubah menjadi bio etanol, pamor singkong kembali menggeliat. Russanti Lubis

Selama ini kita mengenal ubi kayu sebagai tanaman yang mudah didapat bibitnya dan gampang dibudidayakan (dapat ditanam di lahan yang kurang subur sekali pun, risiko gagal panen 5%, dan tidak memiliki banyak hama, red.). Di sisi lain, dibandingkan tanaman pangan pada umumnya yang rata-rata hanya berumur empat bulan, sumber energi yang kaya karbohidrat tapi miskin protein ini, umurnya lebih panjang yaitu tujuh hingga 12 bulan. Selain itu, harga jualnya terbilang rendah dan dianggap sebagai tanaman yang menguruskan tanah, karena boros mengambil unsur hara. Padahal, kondisi ini sangat tergantung kepada kesuburan tanah, produktivitas, dan pemupukan.

Sisi baik dan buruk yang dimiliki umbi atau akar pohon yang bernama lain singkong ini, menjadikannya dipandang sebelah mata oleh banyak pihak, bahkan oleh petaninya. Saking disepelekannya, tanaman yang dianggap tanaman marjinal karena biasanya tumbuh di lahan marjinal ini, tahun lalu secara nasional hanya mampu berproduksi 20,05 juta ton dengan luas panen 1,24 juta ha. Ini berarti tingkat produktivitasnya hanya 16,2 ton/ha. Sementara produksi singkong di Thailand sebanyak 21,44 juta ton yang didapat dari lahan seluas 1,06 juta ha atau dengan tingkat produktivitas 20,28 ton/ha.

“Tingkat produksi tersebut memang terbilang rendah. Karena, sebenarnya masih bisa ditingkatkan menjadi 25 juta ton hingga 40 juta ton,” kata Zonda Sani, Kepala Sub Direktorat Ubi Kayu, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Departemen Pertanian. Hal ini terjadi, sebab petani menanam ketela pohon secara apa adanya, dalam arti, begitu ditanam langsung ditinggalkan begitu saja. Pemupukan pun dilakukan sekadarnya, misalnya menggunakan sisa pupuk tanaman jagung yang ditanam sebelumnya di lahan yang sama. Di sisi lain, situasi ini harus dimaklumi mengingat para petani ubi kayu pada umumnya berpenghasilan rendah, sehingga tidak mampu membeli pupuk yang harganya dari waktu ke waktu semakin mahal. “Jadi ya pintar-pintarnya mereka melakukan pemupukan,” lanjutnya.

Memang tidak pernah diketahui, berapa sebenarnya kebutuhan negara ini akan ubi kayu. Setiap tahun, para petani ubi kayu hanya diarahkan untuk memenuhi target yang telah ditetapkan. Misalnya, untuk tahun ini, ditargetkan 20,6 juta ton. Tapi, sejauh ini baru berhasil diproduksi sebanyak 19,5 juta ton. “Jadi, ya memang harus terus ditingkatkan mengingat kebutuhan akan singkong itu sebenarnya sangat besar, baik untuk bahan pangan, industri farmasi, kimia, bahan bangunan, kertas, maupun yang sedang marak saat ini yaitu industri biofuel (baca: bio-etanol, red.). Bahkan, turunan-turunannya pun masih berguna, misalnya untuk pakan ternak, saus, dan sebagainya,” jelas Zonda.

Berkaitan dengan bio-etanol, energi alternatif pengganti bahan bakar minyak untuk kendaraan ini merupakan etanol atau bahan alkohol hasil proses fermentasi singkong. Studi terhadap bio-etanol di Indonesia sudah dilakukan sejak 1983, bertepatan dengan produksi singkong di Lampung yang ketika itu melimpah ruah. “Brasil menggunakan tebu sebagai bahan baku etanol, sedangkan Amerika Serikat memakai jagung. Indonesia masih menggunakan campuran antara singkong (8%), pepes tebu (1%), dan sorgum (1%). Tapi, nantinya hanya akan menggunakan singkong. Nah, kalau produksi singkong kita bisa mencapai 25 juta ton/ha dan harga per kilonya Rp350,-, tentu terjadi peningkatan pendapatan yang sangat besar bagi petani, meski sudah dikurangi biaya produksi. Di sisi lain, pihak industri akan dapat terus beroperasi karena bahan bakunya terpenuhi sepanjang musim,” ungkapnya. Sekadar informasi, Lampung sebagai sentra ketela pohon, tahun lalu menyumbang produksi ubi kayu sebanyak 5,5 juta ton dari luas panen 2,8 ribu ha.

Lalu, ubi kayu yang bagaimana yang bagus untuk bio-etanol? “Pada dasarnya, ubi kayu mempunyai banyak varietas, tapi baru 10 yang berhasil diteliti di Indonesia. Nantinya, akan dilepaskan lagi beberapa varietas sehubungan dengan industri bio-etanol. Berbeda dengan yang dikonsumsi manusia, singkong untuk bio-etanol harus memiliki kadar pati yang tinggi yaitu 25% sampai 45%. Dan, biasanya itu ubi kayu yang berasa pahit (melalui proses pencucian yang benar, ketela pohon ini pun dapat dimakan manusia, red.),” jelasnya. Sekadar informasi, menurut Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi cq Balai Besar Teknologi Pati Lampung Maret 2006, dari 6,5 kg ubi kayu segar dapat dihasilkan 1 liter etanol berkadar 95%, dengan harga jual Rp3.500,-/liter. Bila diperhitungkan dengan ongkos tenaga kerja, transpor, dan sebagainya maka harga jualnya akan menjadi Rp4.350,-/liter.

“Singkong sebagai bahan baku utama bio-etanol, mungkin merupakan tanda kebangkitan ketiga itu telah datang, setelah kebangkitan pertama singkong diubah menjadi gaplek dalam kaitannya dengan sumber bahan pangan alternatif dan kebangkitan kedua atau ketika singkong diolah menjadi tapioka,” tegas Zonda. Nah, tidakkah Anda berminat pula membudidayakan lumbung pangan alternatif ini?

Analisa Usaha Tani Ubi Kayu
(per hektar)

A. Total biaya tenaga kerja                                                    Rp1.685.000,-           
B. Sarana produksi                                                                                                    

       Bibit (10.000 stek @ Rp30,-)                                                 Rp     300.000,-
       Pupuk kandang                                                                   Rp       ---
       Pupuk buatan                                                                      Rp     495.000,-
       Pestisida                                                                             Rp       ---
       Lain-lain pengeluaran                                                           Rp     540.000.-  +               
Total biaya (A + B) = Rp3.020.000,-                                       Rp1.335.000,-

C. Hasil penjualan (tingkat petani)
     (
25.000 kg @ Rp300,-)                                                          Rp7.500.000,-
Pendapatan bersih (hasil penjualan – total biaya) = Rp4.480.000,-           
R/C (hasil penjualan : total biaya) = 2,48

Catatan: Analisa usaha ini dilakukan tahun lalu, dengan demikian telah terjadi beberapa perubahan baik di biaya tenaga kerja, biaya sarana produksi, maupun hasil penjualan. Harga jual singkong untuk setiap propinsi juga berbeda-beda, misalnya di Lampung Rp350,-/kg sedangkan di Jawa Rp600,-/kg.

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »