www.AlvinAdam.com


Majalah Pengusaha

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Dandan Irawan, S.E, M.Sc, Harmonisasikan Dua Ruh Berbeda

Posted by On 02.54

Dunia akademis dan bisnis diakui oleh Dandan memang bertolak belakang. Namun kalau bisa mengelolanya, bisa berpadu seperti dua sisi mata uang. Fisamawati

Sebagai akademisi di bidang ekonomi dan kewirausahaan, tak hanya dituntut menguasai ilmu yang bersifat teoritis saja. Ilmu yang didapat di kelas berupa teori-teori pun harus diaplikasikan di lapangan. Sehingga antara ilmu teoritis dan praktisi dapat berjalan selaras dan saling melengkapi.

Bagi Dandan Irawan, keinginannya untuk terjun sebagai praktisi hanya dilatarbelakangi dari sebuah pertanyaan sederhana. “Pernah ada mahasiswa yang bertanya kepada teman saya saat mengajar mata kuliah koperasi, apakah bapak pernah terlibat langsung dalam kepengurusan koperasi?,” Dandan menceritakan.

Meski pada dasarnya dunia akademisi bertolak belakang dengan bisnis, namun Dandan tetap menjalaninya walau harus menghadapi beberapa kendala dan resiko. “Karena pola pikir para akademisi berbeda dengan para pengusaha. Umumnya, pengusaha menjalankan bisnis sudah diterpa untung rugi dalam proses akhir. Sedangkan para akademisi, kecenderungan menganalisis kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam prosesnya dengan terus terfokus pada pemikiran ‘bagaimana agar untung’, sehingga  timbul keraguan bahkan batal untuk memulai sebuah bisnis,” paparnya.

Ia pun mengakui, ketika masuk ke Ikopin, menyadari bahwa dirinya tak memiliki bakat dalam berbisnis. Perlahan tapi pasti, semua terasah dengan sendirinya setelah menyelesaikan kuliah S2 dan mengikuti pelatihan kewirausahaan dari Jerman selama satu bulan. “Dari situlah, saya banyak berkecimpung dan terlibat langsung di dewan koperasi untuk memberikan konsultasi bagi usaha-usaha kecil,” tambah pria yang bergabung di Ikopin sejak tahun 1988.

Kini, selain menjabat sebagai Wakil Rektor I Ikopin Jatinangor, Bandung, ia pun memiliki usaha di bidang jasa dan garmen. “Saat ditawarkan untuk masuk kejajaran struktural manajemen Ikopin, saya seperti dihadapkan pada pilihan. Dalam keseharian saya terbiasa menjalankan aktifitas mengadakan program-program pengembangan SDM di luar bersama rekan lain. Maka, kebiasaan bisnis jasa di luar akan mendapat porsi yang sedikit dari semula, dan banyak rekan saya yang menyayangkan keputusan tersebut,” ungkapnya. Namun dengan berbagai strategi, usaha tersebut ditarik ke dalam dengan memberikan kontribusi sekitar 10-15 persen. “Saya tidak berniat untuk mendirikan ‘bendera’ sendiri,” tegasnya yang mengacu pada kondisi lingkungan dan etika.

Sedangkan untuk bisnis garmen, bermula dari tawaran kerjasama dalam bentuk bagi hasil. Dengan sistem ini risikonya kecil. “Pertimbangannya, setiap satu potong celana, saya mendapat Rp. 2000,- tanpa memikirkan biaya penjahit dan lainnya. Jika bangkrut, investasi barang-barang yang sudah ada dapat dijual dengan harga beli semula,” ungkap Dandan dengan investasi awal Rp. 80 juta.

Mengemban dua tugas yang berbeda bahkan bertolak belakang sangatlah sulit, apalagi mengenai pengaturan jadwal. Kesibukannya mengajar sekaligus duduk di jajaran manajemen menuntutnya untuk tetap berada di tempat. Ditambah aktifitas bisnis di luar, yang juga menuntut perhatian khusus agar terus berkembang. Tapi harmonisasi keduanya dapat diterapkan oleh Dandan, meski dulu pernah mendapat satu kali peringatan formil akibat kesibukannya di luar. “Dalam seminggu, tuntutan mengajar sebanyak 12 sks. Jadi saya mengajar selama 4 hari, sisa hari lainnya digunakan untuk kegiatan lain. Jadi jadwalnya sudah tetap bahkan bisa dibuat fleksibel,” akunya.

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »