www.AlvinAdam.com


Majalah Pengusaha

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Tawang Titan Abe, Memanfaatkan Kain Limbah

Posted by On 02.50

Belajar berbisnis sejak duduk di bangku sekolah dasar, naluri bisnis Tawang Titan Abe langsung bekerja ketika melihat sisa-sisa kain dari usaha konveksi bapaknya. Russanti
Lubis                                                                                                 

Adakalanya rasa iri bisa diartikan sebagai emosi yang positif, seperti yang terjadi pada Tawang Titan Abe. Kelahiran Bandung, 18 tahun lalu ini, sejak duduk di bangku SD tidak pernah mendapat uang jajan dari orang tuanya. Agar bisa seperti teman-teman sekolahnya yang bisa membeli apa pun dengan uang jajan mereka, saat duduk di bangku kelas 5 atau 6 SD, ia berinisiatif menjual mainan.

Setelah sejumlah uang terkumpul, Tawang, begitu ia disapa, pun berhenti berjualan. “Hobi” ini muncul sesaat ketika ia duduk di bangku SMP, lalu menghilang lagi. Kala ia duduk di bangku kelas 2 SMA, muncul lagi. Ketika itu, teman-teman sekolahnya membutuhkan kaus seragam untuk kelompok mereka. “Saya menawarkan diri membuat kaus seragam untuk mereka, dengan memanfaatkan sisa kain dari usaha konveksi kecil-kecilan milik Bapak saya. Tawaran saya diterima dan saya membuat 50 kaus untuk mereka,” ujarnya. Dari “bisnis” tanpa modal ini, ia meraup pemasukan Rp200 ribu.

Sejak itu, motivasi sulung dari tiga bersaudara ini berubah. Jika semula sekadar membantu teman dan Bapaknya, selanjutnya ia ingin membangun distro tak jauh dari rumah orang tuanya, kawasan Sukaluyu, Bandung. Apalagi, dalam perkembangannya, banyak temannya yang memesan berbagai produk kepadanya. “Sekarang saya sedang serius mengumpulkan modal untuk pembangunan distro saya, yang produknya buatan saya sendiri dan limited edition. Sedangkan bahan bakunya dari kain sisa usaha konveksi Bapak saya,” jelas lulusan SMAN 24 Bandung ini.

Mengapa distro? “Bapak saya sering menerima pesanan dari berbagai distro. Saya lihat biaya produksinya lumayan, setelah dijual di distro harganya bisa melambung dua hingga tiga kali lipat. Tapi, untuk distro saya nanti, harga produknya nggak terlalu jauh dari harga produksinya,” kata Tawang, yang mengaku kesibukannya “berbisnis” tidak mengganggu sekolahnya maupun statusnya sebagai remaja yang biasanya masih suka hura-hura. “Justru dengan berbisnis di usia remaja, selain bisa membantu perekonomian keluarga, juga bisa memenuhi kebutuhan sendiri dengan uang yang diperoleh sendiri. Itu kepuasan batin yang tak terhingga,” tambah remaja yang ingin melajutkan pendidikan ke bidang seni rupa ini. 

Dibandingkan dengan mereka yang memulai bisnis di usia dewasa, ia melanjutkan, mereka yang berbisnis di usia remaja nantinya lebih kaya pengalaman dan lebih siap mental. “Di sisi lain, anak muda selalu mengikuti perkembangan zaman dan hal ini akan terus berlanjut meski usia bertambah, sehingga bisnis yang dirambah semakin banyak dan beragam. Sebaliknya, mereka yang berbisnis di usia dewasa cenderung statis. Maksudnya, yang laku dibisniskan saat itu produk tersebut, maka selamanya mereka akan berkutat di situ,” ucap Tawang, yang menargetkan di tahun kedua perkuliahannya sudah harus memiliki perusahaan sendiri, sesuai kesepakatannya dengan sang Bapak.

Sisi lemahnya, ia menambahkan, biasanya mereka cenderung takut atau malu-malu untuk memulai. Di samping itu, mereka biasanya belum fokus pada pemasukan yang diperoleh. Jika pebisnis pada umumnya memutar kembali pemasukan untuk mengembangkan usahanya, pebisnis remaja cenderung menggunakan pemasukan untuk hal lain, sesuai dengan keinginan mereka. “Dan, terhambat harga pertemanan,” pungkasnya. 

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »