www.AlvinAdam.com


Majalah Pengusaha

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Blessing in Disguise

Posted by On 02.53

Teori dan praktek sering bersifat kontradiktif, namun sebenarnya adalah satu kesatuan sebagaimana keberadaan siang dan malam. Russanti Lubis

Sering dikatakan bahwa seorang akademisi tidak akan mungkin menjadi pebisnis yang sukses dan pebisnis yang sukses biasanya bukan berasal dari kalangan akademisi atau tidak berpendidikan tinggi. Faktanya, beberapa akademisi ternyata juga berhasil sebagai pebisnis dan untuk dapat menjadi pebisnis yang sukses, ternyata juga membutuhkan pendidikan tinggi.

Menurut Shofwan Azhar Solihin, Dosen Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin), sering pula dikatakan bahwa bisnis itu tidak membutuhkan teori. “Menurut saya, penguasaan teori itu dapat mendukung bisnis, cuma mungkin berbeda rohnya. Sebagai pengajar manajemen marketing (juga seminar pemasaran dan retailing, red.) ketika menyampaikan teori bagaimana membuat konsumen puas, tapi tidak mempraktikkan ya akan menguap begitu saja. Berbeda kalau juga dipraktikkan, rasa puas atau percaya konsumen akan sangat dihayati. Dengan kata lain, rohnya akan terasa lebih lengkap jika teori diikuti praktik,” kata Direktur LBPP-LIA cabang Buah Batu, Bandung.

Untuk itu, agar seorang akademisi bisa menjadi pebisnis sukses atau sebaliknya, Sarjana Ekonomi dari Universitas Padjajaran, Bandung, ini berbagi kiat. “Akan lebih baik bila seorang akademisi itu berbisnis, sesuai dengan latar belakang akademisnya. Meski, berbisnis di dunia pendidikan itu sebenarnya bukan pure bisnis. Memang ini franchise atau ada uang yang berputar tapi saya tetap melihatnya bukan pure bisnis. Apalagi, kata orang, mereka yang berbisnis dalam dunia pendidikan harus memiliki kriteria sebagai (maaf) orang gila. Karena, lama sekali balik modalnya,” ujar Master di bidang Economic Agricultural Science, Landbouw Watenschapen, Belgia, ini.

Selanjutnya, berdasarkan teori, lokasi adalah syarat pertama dan utama dalam berbisnis. “Secara ekstrem dikatakan bahwa keberhasilan suatu usaha itu tergantung pada empat hal yaitu lokasi, lokasi, lokasi, dan lokasi. Karena, lokasi yang strategis akan menutup kelemahan berbagai strategi bisnis yang lain,” ucap pria yang mengaku mengelola LBPP-LIA karena blessing in disguise (berkah yang tidak disengaja, red.). Berikutnya adalah modal. “Dalam berbisnis tidak perlu menggunakan modal sendiri,” imbuh Shofwan yang modal awal bisnisnya ini dikucurkan dari kocek sang kakak yang arsitek lulusan ITB.

Keberhasilannya mengelola LBPP-LIA membuat kontrak diperpanjang. Sekadar informasi, kini LBPP-LIA yang dikelola Kepala Bagian Pengelolaan Aset Ikopin ini memiliki 1100 siswa dan pemasukan Rp550 juta/tiga bulan. “Kontrak yang diperpanjang berarti menuntut tambahan modal. Karena tidak punya modal, saya harus pinjam ke bank. Pihak bank selalu memandang sebelah mata pada bisnis berbau kursus. Tapi lagi-lagi blessing in disguise, credit officer bank tersebut mantan mahasiswa saya yang melihat bahwa saat itu (tahun 1996) bisnis yang masih prospektif adalah dunia pendidikan dan kesehatan. Dan, saya pun mendapat pinjaman,” kata laki-laki yang sekarang justru berada di posisi klien yang paling diinginkan oleh berbagai bank karena track record-nya yang bagus. Di akhir perbincangan, Shofwan menitipkan kata-kata bijak: Menjadi wirausaha jangan cuma takut rugi atau gagal, tetapi juga bersiap-siaplah untuk berhasil. Karena, godaannya sangat besar.

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »