www.AlvinAdam.com


Majalah Pengusaha

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Menggantungkan Pendapatan Pada Lampion

Posted by On 03.59

Cina dan Jepang merupakan negeri asal kerajinan lampion. Tetapi Tiang Jaler berusaha mendesain lampion khas Indonesia. Peluangnya masih terbuka. Wiyono

Saat mengamati dekorasi interior ruangan pesta atau barangkali panggung hiburan di layar kaca, mata kita kerap tertumbuk pada hiasan lampu yang digantung atau diletakkan di tempat tertentu sebagai pemanis, misalnya sudut-sudut ruangan. Ada yang berbentuk bulat seperti bola, berbentuk hati, bentuk-bentuk binatang tertentu dan lain-lain. Lebih tepatnya lampu dengan hiasan berwarna-warni rupa atau bentuknya yang menarik itu lazim dinamakan lampion.
Khusus bagi masyarakat Tionghoa lampion bukan barang baru. Memang awalnya kerajinan lampion itu berasal dari Cina dan Jepang. Di Cina biasanya lampion digunakan pada acara ritual keagamaan, sedangkan di Jepang selain untuk ritual keagamaan sudah digunakan sebagai penerangan dalam ruangan. Ciri-ciri lampion Jepang cenderung menggunakan rice paper sebagai bahan dasarnya.

Seperti keterangan Imran Makmur, salah satu pemilik Tiang Jaler, sebuah usaha dengan kategori handicraft atau bergerak di bidang kerajinan tangan. Lebih lanjut dijelaskan, produk yang dihasilkan usaha yang berlokasi di kota kembang itu berupa lampion/ paper lamp yang terdiri atas beberapa jenis yaitu lampu gantung, lampu meja, lampu standing souvenir, dan lampu pesta/ party lamp. Imran menjalankan bisnis tersebut bersama dengan Aris Wibowo Dwi A. Jika Aris lebih menangani bagian produksi, maka lulusan fakultas Ekonomi Manajemen Unpad ini kebagian mengurus soal-soal keuangan. “Untuk pemasaran kami tangani bersama,” ungkap Imran.
Imran mengaku tertarik dengan usaha kerajinan lampion ini dikarenakan keindahan bentuk lampion itu sendiri. Desainnya yang dinamis membuat lampion dapat dikembangkan menjadi bermacam-macam bentuk. Sejak awal merencanakan usaha Aris maupun Imran bahkan sudah memutuskan agar lampion karya mereka bisa meninggalkan nuansa Jepang dan China, tetapi lebih bersifat Indonesia. Hasilnya, kini lebih dari 80 macam desain lampion baru yang mereka ciptakan. Bentuknya beraneka rupa, ada yang seperti kerucut bersegi segitiga, bentuk-bentuk simetris, serta ada pula berbagai bentuk binatang dan bunga.

Investasi usaha, dikatakan, tidak terlalu besar dan nilainya di bawah nilai Rp 50juta. Antara lain digunakan untuk membeli peralatan serta bahan, yaitu rotan, kertas khusus serta bahan pewarna. Sebagian besar produk dikerjakan berdasarkan adanya order terlebih dahulu, biasanya dengan sistem jual putus. Selain itu kadang-kadang terdapat pula produk untuk persiapan pameran atau pun saat melayani permintaan konsinyasi. Dengan jumlah karyawan tetap sebanyak 6 orang sebulan Tiang Jaler mampu memproduksi sekitar 500 buah.  Pada akhir tahun sampai dengan awal tahun biasanya jumlah penjualan meningkat, sehingga bengkel ini bisa memproduksi hingga ribuan lampion dan tentunya memerlukan tambahan beberapa tenaga perajin.

Meski bahan dasarnya simpel, yakni kertas dan rotan, tetapi menurut Imran yang susah justru terletak pada proses pembuatannya. Sebuah model yang bagus harus dibuatkan cetakannya daan diproses hati-hati supaya hasilnya sempurna. Maka pada saat melayani pesanan baru, faktor kesulitan pada waktu proses pembuatan akan menentukan harga jual. Sehingga harga bervariasi mulai puluhan ribu sampai dengan ratusan ribu. Di samping itu banyak-sedikitnya jumlah pesanan juga mempengaruhi harga satuan. Sedangkan saat ini omzet penjualannya sekitar Rp 18 juta-Rp 20 juta per bulan.

Diungkapkan pula pada masa-masa awal usaha tahun 2002  strategi penjualan produk lebih banyak dilakukan dengan cara mengikuti pameran hingga beberapa kali dalam setahun mengambil lokasi di beberapa kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta dan Semarang. Sedangkan cara lain dengan mengandalkan relasi yang sudah menjadi pelanggan tetap, khususnya yang tinggal di kota-kota besar di luar pulau Jawa seperti Makasar dan Balikpapan. “Saat ini selain tetap mengikuti pameran, kami lebih cenderung mengandalkan pemasaran lewat referensi pelanggan-pelanggan setia kami dan melalui website di www.tiangjaler.com,” ungkap Imran.

Imran yakin usaha ini masih memiliki peluang sangat besar mengingat kecenderungan desain interior pada saat ini lebih mengarah kepada desain modern minimalis sehingga produk lampion sangat cocok digunakan untuk aplikasi tersebut. Walaupun begitu ia tidak menampik adanya masalah yang bisa menjadikan batu sandungan. “Sama seperti yang dialami banyak pengrajin lainnya, kendala terbesar kami adalah pengrajin yang dapat memproduksi dengan kualitas baik serta loyal,” akunya. Tetapi ditambahkan hal itu tetap tidak menyurutkan optimisme mereka. Karena SDM dapat diperoleh melalui pemberdayaan anak-anak muda di sekitar tempat usaha yang memiliki kreativitas yang tinggi serta banyaknya sumber seni dan desain seperti dari mahasiswa seni rupa dan desain ITB.

Sementara itu agar produk semakin diterima oleh pasar, seperti dikatakan, ditempuh dengan upaya terus melakukan inovasi dalam hal desain produk yang mencirikan Tiang Jaler memiliki produk-produk yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Target pasar yang dibidik cukup luas, meliputi bidang entertainment misalnya sebagai latar/ setting program televisi, wedding party, interior cafe, live show (panggung musik) dan banyak lagi. Sedangkan agar pasarnya semakin bertambah luas, disamping membuat produk-produk untuk dekorasi mereka juga akan mulai mengembangkan ke arah retail dan berencana dapat membuka outlet di Jakarta pada tahun 2007.

“Saat ini selain produk lampion kami juga mengembangkan produk lampu yang cocok untuk interior cafĂ© atau restoran,” tutur lajang kelahiran Medan ini. “Ke depannya kami ingin lebih memperkenalkan lampion kepada masyarakat sebagai alternatif dekorasi yang tidak kalah bagusnya dengan dekorasi yang saat ini lebih cenderung menggunakan bunga dan kain,” tambahnya. Membuat lampion untuk penerangan rumah-rumah tinggal? Sepertinya sebuah garapan bagus yang pantas dijadikan peluang. Selamat mencoba!

nalisa Usaha Pembuatan Lampion
Biaya Bahan Baku
- Kertas khusus (kertas singkong atau rice paper)  Rp.    600.000,- 
- Rotan Rp.    300.000,-
- Bahan Pewarna Rp.    100.000,- +
 Total
 Rp. 1.000.000,-
 Penjualan Produk 
 *1000 x Rp. 10.000,- = Rp. 10.000.000,- 
 Keuntungan Kotor 
 Rp. 10.000.000,- - Rp. 1.000.000,- = Rp. 9.000.000,-
*Catatan Jumlah hasil akhir produksi tergantung pada tiap desain. Diasumsikan produk
 dihasilkan sebanyak 1000 buah lampion kecil dengan harga @Rp. 10.000,-.
 Lampion adalah termasuk kategori hasil seni sehinggga harga dapat bersifat subyektif. Contoh di pasaran harga berkisar antara Rp. 10.000,- - Rp. 300.000,-

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »