www.AlvinAdam.com


Majalah Pengusaha

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Boleh Membeli Tapi Tidak Boleh Menjual

Posted by On 03.25

Rasa sayangnya kepada binatang membuat Wida Septarina selektif terhadap pembeli binatang piaraan. Ia hanya menjual kepada orang yang dirasa sreg. Russanti Lubis

Apa yang akan dilakukan gadis kecil yang menggemari anjing tetapi dilarang memeliharanya, ketika ia tumbuh menjadi gadis dewasa? Balas dendam! Dan, itulah yang dilakukan Wida Septarina, pemilik pet shop Mr. Tom. Perempuan yang kini memiliki delapan anjing jenis golden retriever, pit bull, dan pug, serta enam kucing persia ini sejak kecil memang menyukai segala jenis anjing, tetapi adanya larangan memelihara anjing di rumah maupun di tempat kosnya, membuatnya menunda memelihara binatang-binatang cantik ini.
“Namun, setelah saya bekerja, serta mempunyai penghasilan dan rumah sendiri, pekerjaan sampingan saya adalah belanja anjing,” kata Wida yang anjing peliharaan pertamanya berjenis miniatur pinscher. Dalam perkembangannya, anggota PPBC (Papillon Pit Bull Club) ini bukan sekadar menyukai anjing, melainkan juga mengembangbiakkannya (breeder). “Sebagai breeder, saya hanya akan menjual anak-anak anjing saya dengan syarat sreg dengan pembelinya dan meminta mereka berjanji untuk tidak menjual lagi anak-anak anjing itu, sehingga bila sewaktu-waktu saya kangen dengan mereka, saya masih bisa bertemu. Nggak profesional banget ya?” tambah wanita yang menjual anak-anak anjing tersebut kala berumur dua bulan, dengan harga minimal Rp2 juta/ekor.

Di samping itu, ia juga menyewakan anjingnya sebagai pejantan. “Bagi lingkungan breeder tidak selalu ada bayaran. Kami bagi hasil saja anak-anak anjing yang dilahirkan. Berbeda, jika itu sistem kawin putus. Dalam hal ini, pemilik anjing betina harus merogoh kocek sebesar Rp1,5 juta sampai Rp2 juta dan mengambil semua anak anjing yang dilahirkan. Biaya ini akan bertambah, bila menggunakan pawang yang tarifnya sekitar Rp200 ribu per sekali mengawinkan,” ujar ibu satu putra yang memiliki ensiklopedia, dvd, dan vcd tentang anjing dan kucing hingga selemari besar.
Pet Shop
Wida juga menternakkan kucing-kucingnya, meski tidak fokus. “Saya sangat mementingkan kualitas, sehingga meski sedang musim kawin, saya tidak selalu mengawinkan mereka. Saya juga tidak mau mengambil untung dari hewan-hewan peliharaan saya, karena saya lebih mementingkan empati bahwa binatang pun makhluk hidup yang ingin dimengerti apa maunya,” katanya.
Kepalang basah ya mandi sekalian. Mengetahui bahwa kebutuhan akan makanan anjing ternyata sangat banyak dan mereka yang hobi memelihara binatang akan memperlakukan hewan peliharaan mereka lebih daripada anak-anak mereka sendiri, serta memelihara hewan juga gaya hidup sebagian masyarakat Jakarta, sejak 2,5 tahun lalu, Wida yang didukung sepenuhnya oleh sang suami, membuka pet shop dengan nama Mr. Tom di Jalan Bangka, Jakarta Selatan. 

Daerah ini sangat dekat dengan kawasan Kemang yang notabene banyak dihuni kalangan ekspatriat, selain pribumi tentunya, yang gemar memelihara binatang. Imbasnya, Mr. Tom mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sayang, keamanan yang tidak terjamin memaksa Mr. Tom pindah ke Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, sejak setahun lalu. “Lokasi ini dekat dengan Cilandak, Pondok Indah, dan Lebak Bulus tetapi traffic-nya yang mengharuskan mobil-mobil melaju dengan kencang, membuat pet shop ini terlewat begitu saja. Untuk itu, saya mengubah strategi dengan me-maintenance customer yang sudah ada, sambil tetap mencari customer-customer baru dengan beriklan,” ucap perempuan yang medio tahun ini akan membuka pet shop lagi di kawasan Jakarta Barat.

“Boleh dikata bisnis ini berjalan dengan lancar. Sebab, kalau kita menyukainya, kita akan menjalankannya dengan sungguh-sungguh. Adanya empati di sini, juga membuat bisnis ini berjalan lebih baik,” tegas Wida yang omset per bulannya mencapai tujuh digit, di luar pemasukan sebagai breeder.

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »